23 July 2013

Konservasi Energi

Estimasi Penempatan Sumber Energi Listrik Tenaga Gelombang Laut di Kawasan Pantai Karst Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta


Ima Rahmawati1, Andika Putri Firdausy2, Azzadiva Ravi Sawungrana3
1,2,3 Universitas Gadjah Mada


Abstrak: Energi fosil merupakan sumber energi utama di Indonesia, tetapi energi ini justru membawa dampak buruk berupa peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer yang mempercepat laju perubahan iklim dunia. Menurut data WDI dan GDF tahun 2013 perbandingan penggunaan energi fosil dan energi bersih di Indonesia sebesar 65,5:8,5 dengan emisi karbon 389,43 juta kubik ton pada 2010. Indonesia yang terkenal dengan Negara kepulauan, dimana laut Indonesia memiliki berbagai potensi salah satunya potensi gelombang laut yang dapat menghasilkan energi listrik. Gelombang laut yang tergolong eco-energy diperkirakan dapat menghasilkan energi sekitar 20-70 kWh/meter, dengan garis pantai sekitar 81.290 km (Peneliti Puslitbang PLN, 2011). Pantai Selatan Jawa merupakan salah satu kawasan potensial sebagai lokasi penempatan sumber energi yang memanfaatkan gelombang laut, terutama di Kabupaten Gunungkidul yang karakteristik wilayah didominasi oleh batuan gamping/karst. Pasalnya lokasi ini memiliki kemiringan dasar laut yang cukup curam sehingga besar kemungkinan untuk menghasilkan gelombang laut yang sesuai. Penelitian ini bertujuan menentukan kesesuaian kawasan untuk penempatan sumber energi listrik dari tenaga gelombang laut (PLTGL Onshore) menggunakan SIG dan Citra Landsat ETM+ komposit 457. Citra Satelit Landsat ETM+ komposit 457 dengan resolusi spasial 30 meter digunakan untuk mengetahui morfologi pantai. Peta Geologi digunakan untuk mengetahui formasi batuan penyusunnya. Peta RBI digunakan untuk mengetahui data lereng pantai yang digunakan dalam mengidentifikasi tipe gelombang. Interpolasi data angin di setiap titik pengukuran memberikan informasi tentang kecepatan angin dan arah angin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kesesuaian lahan secara spasial dan metode pembobotan. Tingkat kesesuaian lahan terbagai menjadi sesuai (S1), sesuai bersyarat (S2), dan tidak sesuai (N). Metode pembobotan menggunakan parameter morfologi pantai, kedalaman air laut, kemiringan pantai, tipe gelombang, kecepatan angin dan arah angin sebagai penilaian awal dan dasar dalam mengidentifikasi kesesuaian lahan untuk penempatan PLTGL Onshore di Kabupaten Gunungkidul.

Kata Kunci : Gelombang Laut, Eco-energy, PLTGL Onshore

21 July 2013

Konservasi Lingkungan

Penentuan Zona Mangrove Sebagai Area Biofilter Alami dalam Upaya Mereduksi Pencemaran Lingkungan di Pantai Utara Semarang

Azzadiva Ravi Sawungrana1, Andika Putri Firdausy2, Ima Rahmawati3
1,2,3 Universitas Gadjah Mada


Abstrak: Kawasan mangrove merupakan salah satu kawasan yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Semarang bagian utara tergolong sebagai daerah dengan tingkat kerusakan pantai cukup tinggi. Terbukti dengan kerusakan hutan mangrove yang ada di Kota Semarang mencapai 11 Ha dari total 36,51 Ha (KeSEMaT UNDIP). Keberadaan zona mangrove di pantai utara Semarang yang seharusnya dapat menjadi area biofilter alami sudah semakin langka, ditambah lagi dengan adanya kegiatan reklamasi pantai yang digunakan sebagai sarana kegiatan industri dan pelabuhan membawa dampak buruk bagi lingkungan, yakni meningkatnya pencemaran lingkungan. Salah satu upaya dalam mengoptimalisasi zona mangrove sebagai area biofilter adalah menjadikan kawasan mangrove sebagai sabuk hijau di sepanjang pantai. Untuk mewujudkan sabuk hijau di sepanjang pantai tergolong tidak mudah sebab kemampuan adaptasi setiap jenis mangrove terhadap lingkungan berbeda, sehingga diperlukan analisis kesesuaian lahan dalam menentukan komposisi vegetasi yang ada di setiap zona. Pembagian kawasan mangrove berdasarkan jenis vegetasi terdiri dari zona ecotone yang diperuntukan sebagai zona pemanfaatan dan zona mangrove yang diperuntukkan sebagai zona konservasi. Zonasi Ectone terdiri dari vegetasi kelapa nimbung dan nyipa yang keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat. Zona Mangrove terdiri dari vegetasi Bruguiera, Rhizophora dan Avicenia yang keberadaannya dimanfaatkan sebagai area biofilter alami. Metode yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah analisis kesesuaian lahan dalam menentukan komposisi vegetasi terbagi menjadi sesuai (S1), sesuai bersyarat (S2), dan tidak sesuai (N) terhadap vegetasi yang ada di tiap zona. Parameter yang digunakan diantaranya kondisi tanah, kadar garam, lamanya penggenangan dan arus pasang surut kesesuaian lahan terhadap vegetasi yang ada di tiap zona.

Kata Kunci : Mangrove, Pencemaran Lingkungan, Biofilter Alami

17 July 2013

you

"Jika saat ini kamu dapat melukiskan rasa cinta didalam hatimu
maka suatu saat kamu juga dapat menghapusnya"

09 July 2013

Eco-energy

Onshore Sea Wave Power Station: Site Selection in Gunungkidul, Yogyakarta through Remote Sensing and GIS Analysis

1 Andika Putri Firdausy, 2 Azzadiva Ravi Sawungrana,3 Ima Rahmawati
1 Faculty of Geography, Gadjah Mada University
2Faculty of Geography, Gadjah Mada University
3Faculty of Geography, Gadjah Mada University


Abstract. 65.5:8.5 is the consumption ratio of fossil energy and clean energy in Indonesia with 389.43 million metric tons carbon emission in 2010 (WDI & GDF 2013). It is an irony because Indonesia is one of the lungs of the world and Indonesia has so many alternative energies such as sea wave energy that has zero emission. Indonesia needs to develop this kind of energy because Indonesia has great length of shore and the one of the greatest shore for sea wave energy is Gunungkidul’s shore. That potential place needs to be developed by quick and right technique to know suitability of on shore sea wave energy power station placement. Remote sensing technique that integrated with Geographic Information System is an effective way to get information of sea wave energy placement suitability. Landsat Satellite image 30 m spatial resolution used to find out shore morphology. Bathymetric map can give sea water depth and shore tilt information by interpolate every height point. Shore slope data is used to identify the wave type of the shore. Wind data interpolation in every measure point gives information about wind speed and wind direction. Matching method is used against parameter of shore morphology, sea water depth, shore slope, wave type, wind speed, and wind direction as the early rating and basic of land suitability identification for onshore sea wave power station site selection. Land suitability level is divided to very suitable (S1), quite suitable (S2), marginal suitable (S3), and not suitable (N). Based from identification result with matching method could be known suitability level of onshore sea wave power station placement so that can produce optimal energy.

Keywords: Eco-energy, Sea wave power station, Matching, Site Selection

08 July 2013

APM~

Attack Prediction Map (APM) for Indonesian Maritime Defense

1 Azzadiva Ravi Sawungrana, 2 Andika Putri Firdausy,3Ima Rahmawati

1 Faculty of Geography, Gadjah Mada University
2Faculty of Geography, Gadjah Mada University
3Faculty of Geography, Gadjah Mada University

Abstract: Indonesia is 15th strongest country in the world, and  1st in South-east Asia with maritime power 17th in the world (3rd in South-east Asia) and air power 31st in the world (3rd in South-east Asia) (Global Fire Power). It is unfortunate because Indonesia is the biggest archipelago country with number of islands more than 17 thousand but doesn’t have optimal power of maritime and air that can weaken Indonesia itself. With quite little power of maritime and air Indonesia should have the right strategy spatially so that Indonesia can maintain all region from outside attack when maritime and air power still in development. Overlay method of Attack Map with analysis of attacks that have occurred is used to determine the right spatial defense strategy. Consideration parameters that are used are attacks-that-have-occurred direction, number of armada, strongest type of armada, number of near-country, presence of Indonesian important facility, and technology of the attacker. With remote sensing, bathymetric map, and topographic map, description of Indonesian relief will be known and can be utilized to determine every strategy in every region in Indonesia because every region has different characteristic of environment and geography so that it needs to make profound region study to determine the suitable defense strategy in every region. The result is attack prediction map with the suitable strategy spatially.

Keywords: Indonesian maritime, Indonesian defense, Spatial defense strategy, Attack prediction map